Sintong Panjaitan

Fakta Apa dibalik Buku Letjen (Purn) Sintong Panjaitan

Sintong Panjaitan memaparkan kebenaran sejarah tentang situasi militer zaman Orde Baru yang selama ini dinilai samar-samar. Hal ini dituangkan dalam bukunya berjudul Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, yang diluncurkan Rabu (11/3) malam.

Coba cari-cari informasi tentang buku yang akan terbit dari seorang Letjen (Purn) Sintong Panjaitan. Ternyata membawa saya ke beberapa web dan blog yang menceritakan sedikit tentang buku yang mungkin akan menggemparkan dunia politik Indonesia. Sebenarnya siapa sih Letjen (Purn) Sintong Panjaitan ini ? Ok, coba kita flashback dahulu.

Sintong Panjaitan menjalani karir militernya dengan cepat dan sangat baik. Karir militer Sintong dimulai secara gemilang sejak di akademi militer, lulus dengan predikat terbaik, karirnya sebagai seorang militer bisa dibilang sempurna sehingga akhirnya Ia mendapat julukan “ The Rising Star”, sampai akhirnya Ia menduduki jabatan sebagai Pangdam Udayana dengan pangkat Mayor Jenderal, pada usia yang relatif masih muda. Wilayah kerja Kodam Udayana pada waktu itu, cukup luas dan mencakup juga Timor Timur (titik kehancurannya).  Salah satu prestasi gemilang Sintong Panjaitan adalah ketika ia sukses memimpin operasi pembebasan pembajakan pesawat Garuda, Woyla di bandara Don Muang, Bangkok. Kemampuannya dalam memimpin TIMnya sangat dikagumi pemimpin dan petinggi dunia. TIM khususnya sangat ditakuti, dengan kehebatan yang hampir setara dengan TIM SWAT Amerika. Selain itu, masih banyak lagi prestasi yang telah Ia ukir dengan sangat gemilang.

Hingga akhirnya kesemuanya itu hilang bagai petikan jemari. Berawal dari masalah Timor-timur pada tahun 1991 dengan peristiwa Santa Cruz. Banyak orang yang menilai hal itu merupakan konspirasi untuk menaklukkan si Macan TNI itu. Pada peristiwa Santa Cruz tersebut, terjadi penembakan terhadap pendemo di Dilli pada waktu itu. Pada waktu itu ada suatu “kesatuan tak dikenal” yang membuat onar dan menembaki orang yang sedang demo. “Pasukan tak dikenal” itu diluar kendali Kodam Udayana, dan nampaknya “pasukan tak dikenal” itulah yang telah di setting untuk menjebak Kodam Udayana, dimana Sintong Panjaitan menjadi Panglima. Akibat dari kejadian Santa Cruz, sebagai Panglima, Sintong langsung dicopot, dan dianggap bertanggung jawab atas insiden Santa Cruz. Setelah pencopotan jabatan Pandam, kemudian karir militer Sintong Panjaitan pun tamat.

buku-sintong-panjaitanHal ini senada dengan wawancara di TV One beberapa hari lalu, ketika wawancara dengan Letjen (Purn) Sintong Panjaitan Ia mencoba sedikit menutupi akan peristiwa tersebut, namun setelah kedua kru TV One coba memancing akhirnya Ia pun mau menceritakan yang sebenarnya. Namun sayang disayang, tiba-tiba acara tersebut langsung di “Cut” dan diisi dengan iklan, dan setelah iklan selesai tidak ada kelanjutan lagi dari wawancara yang sudah semakin seru itu. Ironis memang, seolah ada yang mencoba menutup-nutupi bangkai yang sudah sangat tercium baunya.

Sangat disayangkan memang, TV One sebagai suatu Instansi Pers bahkan swasta tidak bisa melakukan kebebasan media. Dimana seorang Sintong Panjaitan sudah sampai titik puncak tentang penjelasan karirnya yang kontroversial itu, tiba-tiba harus disudahi begitu saja. Apakah misteri ini akan tetap tertutupi? Kita berharap apa yang belum sempat disampaikan dalam wawancara itu, ada dengan jelas di Buku Sintong Panjaitan yang telah dirilis beberapa waktu kemarin. Itu juga kalo bukunya nggak dicekal !!!.

Source : Detik, Kompas, togarsilaban.wordpress.com.

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

14 comments

  1. parlin says:

    bagus amat infonya….

  2. adam says:

    aku lagi nunggu bukunya nih

  3. Adieska says:

    Wuih… Ini paten nih… Kasih tau kalo bukunga dah nyampe di gramed ya mpal :D

  4. adam says:

    sip bos!!!

  5. reallylife says:

    namanya juga media yg hidup dari iklan , barangkali ada wacana yang telah mereka sepakati, makanya acaeanya jadi begitu dan terkesan ada yang ditutp tutupi

  6. almascatie says:

    kejujuran memang harus ditutupi demi kepentingan sebagian kecil orang yang menikmati itu

  7. adam says:

    tapi sangat miris jika hanya demi kepentingan sebagian kecil orang, oleh karena itu ia membuat buku tersebut. agar orang banyak pada melek.

  8. oRiDo™ says:

    ternyata rezim orde baru masih gentayangan…
    gimana ngilangin nya yah??

  9. adam says:

    Pertanyaan besar bagi kita yang wataknya berkembang di era Rezim Orde baru???

  10. jo says:

    saya telah membaca Buku Pak Sintong Panjaitan.
    Saya sangat KAGUM dan BANGGA akan Sosok seorang Prajurit Para Komando,dengan segudang Pengalaman ‘Taruhan Nyawa’ Demi Bangsa dan Rakyat Indonesia.
    Terima Kasih Pak Sintong atas jasa kepada Bangsa Indonesia.
    Semoga Tuhan Memberi Kesehatan dan Damai Sejahtera Buat seluruh keluarga Besar Pak Sintong Panjaitan.

  11. adam says:

    wah, saya malah belum ketemu tuh bukunya. di medan blum ada ke’nya. :(

  12. abbie says:

    Baru skrg nih baca reviewan buku di sini. Apa dulu2 dah pernah jg ya?

    BTW, klo cerita pasukan tak dikenal pd peristiwa Santa Cruz itu bener, berarti gak gentle jg tuh ya tentara. Orde Baru mmg masanya Like and Dislike, meskipun tentara.
    Mg2 gak lg deh skrg. :)

  13. adam says:

    menurut aku, Masalah bukan pada gentle atau nggak nya bro. Tentara merupakan aparatur negara dibawah tangan pemerintah. Nah masalahnya sebenarnya pada Pemerintahnya sendiri yang nggak ?????????????????? …..

Leave a Reply